in the name of LOVE

Posted: Juli 12, 2010 in Sport

Seminggu terakhir ini terasa sungguh menggelikan bagiku. Alasannya? Begitu banyaknya fans United yang menggantungkan asa juara musim ini pada rival sejati Liverpool (LFC atau Pool) dimana mereka sangat mengharapkan Pool akan mampu menjungkalkan Chelsea di Anfield pada pekan ke 37 Premiership. Kenapa hal ini terasa menggelikan bagiku? Karena sebelumnya fans United lebih mengharapkan dan menertawakan kejatuhan Liverpool terutama pada musim ini, lalu tiba2 berbalik mendukung mati2an demi sepotong asa juara.

Apakah itu salah? Tidak..  sulit untuk menyalahkan apa yang dirasakan oleh fans United, sedikit banyak saya juga mengharapkan LFC mampu berbuat sesuatu walaupun tidak berharap banyak. Fans United bahkan tidak merasa martabat mereka terendahkan dengan mendukung rival abadi mereka asalkan tujuan juara United tercapai walaupun akhirnya hanya sia2 belaka. Lalu saya bertanya dalam hati, seandainya saya fans LFC, apakah saya akan mendukung United seandainya dalam kondisi yang serupa? Apakah saya akan mengharapkan kemenangan United seandainya itu, katakanlah, mempengaruhi ambisi juara atau untuk posisi 4? Saya kira jawabannya sama dengan apa yang dilakukan oleh teman2 fans United umumnya karena ini berkaitan dengan rasa cinta pada klub. Rasa cinta pada klub yang akhirnya mengalahkan rasa benci pada rival.

Ya.. rasa cinta pada klub. Kata yang sederhana yang kadang sering terlupakan oleh berbagai fans. Seringkali kita terlalu sibuk ‘membenci’ sebuah klub tertentu sampai lupa bahwa kita seharusnya lebih mencintai klub kita sendiri. Oleh karena itulah minggu ini menjadi semakin menggelikan bagi saya ketika saya mengunjungi salah satu forum fans Pool dan tidak sedikit yang mengharapkan tim mereka bermain buruk untuk sengaja mengalah dari Chelsea sehingga mengubur asa juara United. Sungguh ironis karena pada fans2 tersebut rasa benci pada rival telah mengalahkan rasa cinta pada klub mereka sendiri. Mereka lupa bahwa adalah LFC sebagai salah satu klub besar di Inggris sudah seharusnya mempunyai harga diri dan kebanggaan untuk mengalahkan lawan2 besar. Ada lagi momen ironis fans Lazio bergembira saat timnya dikalahkan Inter Milan karena mereka tidak menginginkan rival mereka AS Roma untuk menjadi Scudetto, kemanakah harga diri dan rasa cinta fans pada klubnyatersebut? Fans2 tersebut memilih untuk tidak mempedulikan hal tersebut hanya demi sepotong rasa “benci”. Ini adalah suatu hal yang mungkin tidak akan pernah mampu saya mengerti seumur hidupku.

Namun tidak sedikit juga fans LFC yang mengharapkan Pool tetap “fight” walaupun sadar akan konsekuensinya. Perbedaan pandangan ini menyadarkan saya bahwa sebenarnya fans Pool dan fans United tidak jauh bedanya. Bahwa sebenarnya yang membedakan para fans adalah dukungan pada klub yang berbeda saja tetapi di dalamnya komunitas tetap saja ada beberapa fans yang “nyeleneh” atau ngawur. Sebaliknya kalau kita telusuri lebih mendalam lagi, fans United dan fans Liverpool memiliki banyak kesamaan. Kedua klub memiliki sejarah yang panjang, prestasi terbaik di Inggris, memakai warna merah sebagai identifikasi klub, basis fans yang sangat luas, dan terutama masalah yang mirip, United dengan keluarga Glazer sedangkan Pool dgn Duo Yankees Hicks & Gillet.

Saya tidak sedang mengusulkan agar fans United dan Pool saling bergandengan tangan satu sama lain tetapi hanya marilah kita melupakan rasa “benci pada klub rival” yang berlebihan dan sebaliknya lebih fokus dengan mendukung klub kita sendiri. Tidak lama ini saya membaca berita tentang salah satu selebriti yang memakai kaos “provokasi” pada LFC, sungguh disayangkan sekali tindakan seperti ini. Daripada memakai kaos seperti demikian, bukankah lebih membanggakan kalau kita memakai kaos yang menunjukkan identifikasi kita sebagai seorang fans United sejati? Fans United sejati tidak perlu membenci fans LFC ataupun fans2 rival lainnya… sebaliknya alangkah indahnya seandainya kita dapat saling bekerja sama untuk membuat sebuah komunitas sepakbola yang harmonis khususnya di Indonesia ini. Ini tidak hanya ditujukan pada fans LFC tetapi juga fans2 lainnya seperti fans Chelsea, Arsenal, City, bahkan fans di luar EPL spt Milanisti, Interisti, Barca, Madridista, Laziale, Romanisti, Bayern, dll… dan mungkin juga sesama fans United sendiri. Ingatlah bahwa semua fans tersebut pada intinya hanyalah fans sepakbola yang kebetulan menggemari klub sepakbola yang berbeda dengan kita. Selain itu tidak ada perbedaan lain yang terlalu mendasar.

LFC pada akhirnya memang gagal membantu ambisi juara United dan apabila United gagal juara, akan sangat absurd dan tidak adil mengklaim hal ini sebagai kesalahan LFC. Kegagalan kita juara adalah murni kesalahan kita sendiri baik dari segi teknis maupun dewi fortuna yang kurang berpihak pada kita musim ini. Kekalahan LFC dari Chelsea semalam sebenarnya mengingatkan kita bahwa lebih baik mengandalkan kemampuan diri sendiri daripada menggantungkan harapan pada orang lain. Pelajaran yang sedikit terlambat dipetik oleh United musim ini setelah kekalahan menyakitkan dari Chelsea disusul dengan hasil imbang dengan Blackburn.

Pada akhirnya marilah kita menatap ke depan, tinggal seminggu lagi sebelum Premiership selesai dan asa juara masih terjaga walaupun tipis berkat gol Nani di Stadium of Light. Keajaiban memang jarang terjadi, tapi hanya akan datang apabila kita terus berusaha dan tidak menyerah. Marilah kita terus mendukung klub kesayangan kita masing2 dan janganlah terlalu tenggelam dalam rasa benci yang tidak pada tempatnya. Hidup ini terlalu singkat untuk memendam rasa benci, apalagi rasa benci yang tidak jelas alasannya seperti yang sering saya lihat pada fans sepakbola sekarang ini.

Source : blog.indomanutd.org

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s